Minggu, 22 April 2018

ANCAMAN ADALAH KESEMPATAN (Tafsir Surat al-Sajdah ayat 21)


Oleh: Sri Fajri Yanti

Sebagaimana yang telah diuraikan sebelumnya bahwa sanya Surat al-Sajdah bisa dikelompokkan kepada 3 pembahasan pokok yaitu, ­al-Risālah (Utusan), al-Tauhīd (Keesaan Tuhan), dan al-Ḥasyr (Perkumpulan/Hari Kiamat).  Ayat 21 ini masuk dalam pembahasan al-Ḥasyr karena berisi tentang balasan orang-orang fasik (kafir) pada Hari Kiamat. Ayat ini juga masih memiliki keterkaitan dengan ayat sebelumnya yakni ayat 20. Namun yang ditekankan pada ayat 20 adalah keadaan orang-orang fasik (kafir) di Neraka sedangkan yang ditekankan pada ayat 21 adalah ancaman terhadap mereka di dunia. Berikut adalah uraian tafsir Surat al-Sajdah ayat 21.
وَلَنُذِيقَنَّهُمْ مِنَ الْعَذَابِ الْأَدْنَى دُونَ الْعَذَابِ الْأَكْبَرِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ (21)
“ Dan Kami bersumpah akan merasakan kepada mereka sebagian azab yang dekat sebelum azab yang lebih besar, mudah-mudahan mereka kembali.”
A.     Analisis Linguistik
Pada ayat ini, ada beberapa kata yang menarik atau menjadi perhatian untuk dianalisis. Diantaranya;
وَلَنُذِيقَنَّهُمْ  Dalam susunan ini terdapat wau qasm (sumpah), lam jawab dari maqsum bih yang dibuang, dan nun taukīd tsaqīlah. Adanya sumpah dan taukīd memiliki fungsi menguatkan. Artinya suatu pekerjaan yang dilakukan benar-benar akan terjadi.  Karena Allah bersumpah, sedangkan Allah tidak akan menyalahi janji-Nya. Sehingga bisa dipahami bahwa sanya Allah bersumpah benar-benar akan menjatuhkan siksaan kepada mereka.
الْأَدْنَى  Imam ‘Ali al-Shābūnī  dalam kitabnya Shafwah al-Tafāsīr mengartikan kata ini dengan الاقرب dan الاقلّ yang berarti dekat atau sedikit. Begitu juga دُونَ الْعَذَابِ الْأَكْبَر  mengartikannya dengan قبل عذاب الآخرة  .
لَعَلَّهُمْ Dalam ilmu nahwu, ada 2 fungsi لَعَلَّ  yaitu للترجّى (pengharapan yang mungkin terjadi) dan للتمنّى (berangan-angan/tidak mungkin terjadi). Sedang dalam ayat ini memiliki fungsi للترجّى sehingga dapat dipahami bahwa sanya mereka ada kemungkinan untuk kembali ke jalan yang benar.
Balaghah
Muqābalah (Perbandingan)
Muqābalah merupakan salah satu bagian dari ilmu balaghah kategori badi’. Muqābalah adalah dua lafadz atau lebih dalam suatu kalimat kemudian diikuti oleh dua lafadz atau lebih yang berlawanan artinya.
Dalam tafsir Mafātih al-Ghaib karya Imam Fakhruddin al-Rāzī dijelaskan bahwa dalam ayat ini terdapat muqābalah atau perbandingan dua kata yakni kata الْأَدْنَى dan الْأَكْبَر . Namun muqābalah ini menyalahi kaidah pada umumnya karena;
1.      Kata الْأَدْنَى (dekat) seharusnya berbandingan dengan الأقصى\الأبعد (jauh). Karena lawan dari dekat adalah jauh, bukan besar. Sedangkan dalam ayat ini kata الْأَدْنَى (dekat) berbandingan dengan kata الْأَكْبَر (besar).
2.      Kata الْأَكْبَر (besar) seharusnya berbandingan dengan الأصغر (kecil). Karena lawan dari besar adalah kecil. Sedangkan dalam ayat ini kata الْأَكْبَر (besar) berbandingan dengan kata الْأَدْنَى (dekat).
Imam Fakhruddin al-Rāzī menjelaskan alasan mengapa al-Qur’an menggunakkan dua kata tersebut pada ayat ini. Menurutnya, penggunaan dua kata tersebut memiliki hikmah atau memiliki tujuan untuk mengancam atau menakut-nakuti (للتهديد\للتخويف). Diantaranya;
1.      Jika kata الْأَدْنَى (dekat) diganti dengan الأصغر (kecil), maka ayat ini tidak memberikan kesan ancaman. Karena azab yang diberikan di dunia adalah azab yang kecil, sehingga mereka (orang-orang kafir/yang suka bermaksiat) akan menyepelekan hal tersebut dan akibatnya mereka terus berbuat dosa.
2.      Jika kata الْأَكْبَر (besar) diganti dengan الأقصى\الأبعد (jauh), maka ayat ini tidak memberikan kesan ancaman. Karena azab yang diberikan di akhirat adalah azab yang jauh, sehingga mereka akan beranggapan bahwa siksaannya masih lama dan akibatnya mereka akan menunda-nunda taubat.

B.     Makna Ayat
Yang menjadi perhatian para ulama ahli tafsir dalam memahami ayat ini ada pada kata الْعَذَابِ الْأَدْنَى (azab yang dekat) dan الْعَذَابِ الْأَكْبَرِ (azab yang lebih besar). Karena dua kata tersebut masih mengandung ketidakjelasan sehingga dibutuhkan penafsiran untuk memahaminya. Adapun untuk mengetahui apa maksud dari azab yang dekat dan azab yang lebih besar maka biasanya dilakukan penelusuran hadis yang berkaitan dengan ayat ini , apakah Nabi menjelaskan ayat ini atau tidak. Salah satunya dengan menggunakkan kitab al-Durr al-Manṣūr fī al- Tafsīr al-Ma’ṣūr karya Imam Jalaluddin al-Suyūṭī yang berisi hadis-hadis baik itu dari perkataan Nabi, perkataan sahabat atau tabi’in, yang berkaitan dengan makna suatu  ayat al-Qur’an atau biasa disebut dengan Tafsir bil Ma’tsur. Berikut ini adalah uraian hadis yang terdapat dalam kitabnya Imam Jalaluddin al-Suyūṭī.
Ø  Perkataan Nabi (Hadis Nabi)

وَأخرج ابْن مرْدَوَيْه عَن أبي إِدْرِيس الْخَولَانِيّ رَضِي الله عَنهُ قَالَ : سَأَلت عبَادَة بن الصَّامِت رَضِي الله عَنهُ عَن قَول الله ﴿ولنذيقنهم من الْعَذَاب الْأَدْنَى دون الْعَذَاب الْأَكْبَر﴾ فَقَالَ : سَأَلت رَسُول الله صلى الله عَلَيْهِ وَسلم عَنْهَا فَقَالَ هِيَ المصائب والاسقام والانصاب عَذَاب للمسرف فِي الدُّنْيَا دون عَذَاب الْآخِرَة قلت : يَا رَسُول الله فَمَا هِيَ لنا ؟ قَالَ : زَكَاة وطهور.
Ø  Perkataan Sahabat
أخرج الْفرْيَابِيّ وَابْن منيع وَابْن جرير وَابْن الْمُنْذر وَابْن أبي حَاتِم وَالطَّبَرَانِيّ وَالْحَاكِم وَصَححهُ وَابْن مرْدَوَيْه والخطيب وَالْبَيْهَقِيّ فِي الدَّلَائِل عَن ابْن مَسْعُود رَضِي الله عَنهُ فِي قَوْله ﴿ولنذيقنهم من الْعَذَاب الْأَدْنَى﴾ قَالَ: يَوْم بدر ﴿دون الْعَذَاب الْأَكْبَر﴾ قَالَ: يَوْم الْقِيَامَة ﴿لَعَلَّهُم يرجعُونَ﴾ قَالَ: لَعَلَّ من بَقِي مِنْهُم يرجع.

وأخرج ابن جرير وابن المنذر وابن ابى حاتم عن ابن عباس رضي لله عنهما فى قوله ﴿ولنذيقنهم من الْعَذَاب الْأَدْنَى﴾ قال : مصائب الدنيا واسقامها وبلاياها يبتلى الله بها العباد كي يتوبوا.
Ø  Perkataan Tabi’in
وأخرجه الفريابى وابن جرير وابن أبى حاتم عن مجاهد ﴿ولنذيقنهم من الْعَذَاب الْأَدْنَى﴾ قال : عذاب الدنيا وعذاب القبر.
وأخرج الفريابى وابن جرير عن مجاهد فى قوله ﴿ولنذيقنهم من الْعَذَاب الْأَدْنَى﴾ قال : القتل والجوع لقريش فى الدنيا والعذاب الأكبر يوم القيامة قى الآخرة.

Seperti halnya dalil yang dikemukakan diatas, Imam ‘Ali al-Shābūnī menafsirkan kata الْعَذَاب الْأَدْنَى sebagai azab dunia seperti, terbunuh, tawanan (perang badar), dan musibah. Sedangkan العذاب الأكبر sebagai hari kiamat. Demikian juga dalam kitab-kitab tafsir seperti al-Baghāwī, al-Qurṭūbī, al-Lubāb dan yang lainnya menafsirkan الْعَذَاب الْأَدْنَى dengan riwayat dari Muqātil:

وقال مقاتل : الجوع سبع سنين بمكة حتى أكلوا الجيف والعظام والكلاب
“Muqātil berkata: (azab yang dekat adalah) kelaparan di Mekkah selama 7 tahun sampai mereka makan bangkai, tulang dan anjing.”

Sehingga jika diambil kesimpulan, yang dimaksud azab yang dekat adalah musibah ketika di dunia, seperti terbunuh, tawanan (perang badar), kelaparan (orang-orang Quraisy), musim kemarau, penyakit, cobaan dan siksa kubur. Namun pendapat yang mengatakan siksa kubur itu lemah/minoritas karena terjadi setelah kematian, sedangkan yang menjadi tujuan dari ancaman adalah untuk bertaubat/kembali ke jalan yang benar. Dan tidak ada perdebatan mengenai maksud azab yang besar adalah hari kiamat.
الْعَذَاب الْأَكْبَر
(azab yang besar)
الْعَذَاب الْأَدْنَى
  (azab yang dekat/didunia)
يوم القيامة
(hari kiamat)
القتل (يوم بدر)
الأسر\السبي (tawanan)
الجدب\القحط بمكة
(musim kemarau di Mekkah)
الجوع لقريش(kelaparan)
البلايا\الأمراض(musibah/penyakit)
عذاب القبر(siksa kubur)











C.     Kandungan Ayat
Dalam tafsir al-Munīr karya Imam Wahbah al-Zuhailī menafsikan dhomīr hum  pada kalimat  وَلَنُذِيقَنَّهُمْ sebagai orang-orang kafir dan orang-orang yang berbuat maksiat, sehingga bisa dipahami bahwa sanya pada ayat ini Allah bersumpah akan menjatuhkan sebagian siksa dunia kepada mereka (orang kafir/orang yang bermaksiat) secara langsung atau melalui kaum muslimin atau sebab lain, seperti terbunuh, musim paceklik, kegelisahan hidup, dan lain-lain sebelum siksa yang lebih besar lagi yakni hari kiamat, supaya mereka kembali ke jalan yang benar, supaya mereka bertaubat. (Tafsīr al-Mishbah)
            Konteks
Dalam ayat ini Allah menggunakkan sumpah sebagai penguat bahwa siksa dunia benar-benar akan terjadi kepada mereka. Hal ini terbukti pada masa Rasulullah, mereka (orang-orang kafir) mengalami kekalahan pada perang Badr dan mengalami masa paceklik selama 7 tahun. Ini merupakan siksa bagi mereka dengan terbunuhnya para tokoh musyrik di peperangan Badr akibat dari kekafiran mereka dan tidak mau menerima kebenaran.
Bukan hanya itu, diakhir ayat disebutkan لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ (supaya mereka kembali ke jalan yang benar). Pada intinya, Allah mempunyai alasan mengapa memberikan ancaman di dunia kepada orang-orang kafir pada saat itu, yaitu supaya yang tersisa dari mereka bertaubat sebelum ajal mereka datang dan supaya terhindar dari siksa yang besar (hari kiamat). Dan hal ini juga terbukti dengan masuk Islamnya orang-orang musyrik. Namun bagi mereka yang masih tetap dalam kekafiran maka mereka akan merasakan siksa di dunia dan di akhirat.
            Kontekstualisasi
Setelah melihat kekalahan orang-orang kafir pada perang Badr dan masa paceklik di Mekkah maka ayat ini bisa dianggap bahwa khitobnya untuk orang-orang kafir dan orang-orang yang berbuat maksiat pada masa itu. Namun ada kaidah;
العبرة بعموم اللفظ لا بخصوص السبب
Intinya, ayat ini bukan dikhususkan untuk orang-orang kafir pada masa itu saja, namun lihat keumuman lafadz yang digunakkan. Jadi ayat ini bisa berlaku untuk umat Nabi Muhammad yang kafir dan yang berbuat maksiat. Akibatnya mereka akan diberikan siksa dunia seperti musibah, penyakit, kesedihan, kegelisahan hidup, konflik Israel dan lainnya.
Apakah  tidak tau ? Sesungguhnya maksud dari ancaman tersebut adalah hanya untuk membuat mereka kembali kepada Allah. Betapa Allah Maha Penyayang, karena tidak ingin membiarkan hamba-Nya berada dalam kesesatan. Ini bisa berarti bahwa sanya Allah masih memberikan kesempatan kepada mereka dengan dijatuhkannya ancaman didunia, supaya mereka bertaubat dan terhindar dari siksa akhirat.
Contoh kecil dalam kehidupan sehari-hari; ketika ada siswa yang terlambat ke sekolah maka ia akan dihukum dengan di jemur di lapangan. Seorang guru memberikan hukuman tersebut bukan karena benci atau berniat untuk menyakiti tapi hanya untuk memberi pelajaran dan kesempatan supaya tidak melakukan hal itu kembali di hari mendatang.
Terkadang ancaman bukan sebatas siksaan yang diberikan melainkan sebagai kesempatan untuk kembali kepada Yang Maha Kuasa.
Wallahu a’lam

Rabu, 14 Februari 2018

Tentang Misteri Kematian di Hari Jum’at (Studi Kritik Sanad dan Matan Hadis)



Kritik Sanad dan Matan Hadis
Tentang Misteri Kematian di Hari Jum’at

Sri Fajri Yanti/11150340000251
Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatulah Jakarta

Abstrak: Tulisan ini menunjukkan hadis tentang keistimewaan wafatnya muslim pada hari jum’at adalah oʻīf pada riwayat al-Tirmiżī karena terdapat periwayat yang tidak bersambung dengan sahabat. Pendapat ini dikemukakan oleh al-Tirmiżī. Argumen lainnya bahwa al-Bukhārī tidak mengkategorikannya kedalam hadis ṣaḥīḥ karena tidak memenuhi kriteria keṣaḥīḥan hadis yaitu, tidak ada ketersambungan antara Rabīʻah b. Sayf dan ‘Abdullāh b. ‘Amr. Hadis ini tidak memiliki kejanggalan, karena yang berhak mendapatkan keistimewaan terhindar dari siksa kubur adalah muslim yang taʻat dalam beribadah, bukan muslim ahl maksiat.

Kata Kunci: Sanad, matan, muslim, jumʻat.

Pendahuluan
Banyak hadis beredar di masyarakat yang sudah menjadi bagian dari tradisi dan kepercayaan, namun keotentikannya masih harus dipertanggungjawabkan. Misalnya hadis tentang seorang muslim yang meninggal pada hari jum’at akan terhindar dari siksa kubur.
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِىٍّ وَأَبُو عَامِرٍ الْعَقَدِىُّ قَالاَ حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ سَعْدٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِى هِلاَلٍ عَنْ رَبِيعَةَ بْنِ سَيْفٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَمُوتُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَوْ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ إِلاَّ وَقَاهُ اللَّهُ فِتْنَةَ الْقَبْرِ ». رواه الترمذى
Artinya: “..Rasūlullāh s.a.w bersabda; tidak ada seorang muslim pun yang meninggal pada hari jum’at atau malam jum’at kecuali Allah akan menjaganya dari fitnah kubur” (HR al-Tirmiżī).
Berdasarkan rasionalitas, hadis ini memiliki kejanggalan dari segi matan. Hanya dengan meninggal di hari jum’at seseorang bisa mendapatkan reward, yaitu terhindar dari siksa kubur. Padahal syarat seseorang selamat dari siksaan adalah dengan memperbanyak amal ṣāliḥ.
Berpijak pada teks dan rasionalitas terhadap hadis tersebut maka setidaknya ada beberapa permasalahan yang dapat diidentifikasikan sebagai berikut. Pertama, faktor adanya hadis populer. Kedua, respon masyarakat terhadap hadis yang mengandung reward. Ketiga, kesakralan hari jum’at. Keempat, kritik terhadap kualitas sanad dan matan.
Tulisan ini akan membahas permasalahan keempat, yaitu kritik terhadap kualitas sanad dan matan. Permasalahan ini dipilih karena dapat menjawab kualitas hadis dari segi sanad dan matan yang berdampak terhadap asumsi masyarakat. Pertanyaan yang akan dijawab oleh penelitian ini adalah bagaimana kualitas sanad dan matan hadis tentang kematian orang yang meninggal di hari jum’at.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ke-ṣaḥīḥ-an sanad dan matan hadis, juga meluruskan pandangan masyarakat terhadap hadis tersebut.
Sumber data penelitian ini adalah hadis riwayat al-Tirmiżī. Metode penelitian yang digunakan adalah takhrīj al-Ḥadīṡ sebagai pengumpulan data, yakni menelusuri keberadaan hadis berdasarkan literatur hadis. Terdapat tiga cara yang digunakan. Pertama, melalui kata. Kedua, melalui tema. Ketiga, melalui awal matan. Sedangkan pengolahan data menggunakan kitab taḥżīb al-Taḥżīb karya Ibn Ḥajar al-ʻAsqalānī yang berfungsi sebagai kumpulan biografi para periwayat hadis (rijāl al-Ḥadīṡ) dan penilaian para ulama terhadap mereka (jarh wa al-Ta’dīl).
Beberapa studi kritik sanad dan matan hadis tentang hadis ini telah dilakukan oleh sejumlah sarjana, diantaranya skripsi yang berjudul “studi kritik sanad dan matan hadis tentang keringanan bagi orang yang meninggal di hari jum’at” yang ditulis oleh Ahmad Shalahudin Al-Faruqi mahasiswa jurusan tafsir hadis pada tahun 2014.
Tulisan ini disusun dengan empat pembahasan. Pertama, pendahuluan yang memuat persoalan hadis populer yang keabsahannya perlu dipertanggungjawabkan dengan bersumber pada hadis riwayat al-Tirmiżī dan metode takhrīj al-Ḥadīṡ sebagai pengumpulan data. Kedua, penelitian ini menjalankan prosedur kritik sanad dan matan dengan berpedoman pada isnad cum matn. Ketiga, memuat simpulan dari permasalahan yang diangkat.

Keberadaan Hadis “mā min muslimin yamūtu yawmal jumʻah...” dalam Literatur Hadis
Penelitian ini menggunakan tiga metode takhrīj dalam menelusuri keberadaan hadis. Pertama, melalui kata. Metode ini menggunakan kitab al-Muʻjam al-Mufahras li Alfaẓ al-Hadīṡ al-Nabawī karya A.J Wensick (terj- Muhammad Fuad ʻAbd al-Bāqī) sebagaimana memuat kamus hadis berdasarkan kata yang ditelusuri. Diantara kata yang ditelusuri; muslim[1], yamūtu (mawt)[2], jumuʻah[3] dan waqō[4].
Muslim                   : Sunan al-Tirmiżī (kitāb 10 bāb 73) dan Musnad Aḥmad b. Ḥanbal (juz 2 halaman 169)
Yamūtu(mawt)      : Sunan al-Tirmiżī (kitāb 10 bāb 73) dan Musnad Aḥmad b. Ḥanbal (juz 2 halaman 169, 220)
Jumuʻah                                : Sunan al-Tirmiżī (kitāb 10 bāb 73) dan Musnad Aḥmad b. Ḥanbal (juz 2 halaman 169, 176, 220)
Waqō                     : Sunan al-Tirmiżī (kitāb 10 bāb 73) dan Musnad Aḥmad b. Ḥanbal (juz 2 halaman 169)
Penelusuran kata tersebut menunjukan hanya pada dua kitab hadis:
Sunan al-Tirmiżī (kitāb 10 bāb 73)
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِىٍّ وَأَبُو عَامِرٍ الْعَقَدِىُّ قَالاَ حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ سَعْدٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِى هِلاَلٍ عَنْ رَبِيعَةَ بْنِ سَيْفٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَمُوتُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَوْ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ إِلاَّ وَقَاهُ اللَّهُ فِتْنَةَ الْقَبْرِ ».[5]
Musnad Aḥmad b. Ḥanbal (juz 2 halaman 169, 176, 220)
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ حَدَّثَنِى أَبِى حَدَّثَنَا أَبُو عَامِرٍ حَدَّثَنَا هِشَامٌ - يَعْنِى ابْنَ سَعْدٍ - عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِى هِلاَلٍ عَنْ رَبِيعَةَ بْنِ سَيْفٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَمُوتُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَوْ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ إِلاَّ وَقَاهُ اللَّهُ فِتْنَةَ الْقَبْرِ ».[6]
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ حَدَّثَنِى أَبِى حَدَّثَنَا سُرَيْجٌ حَدَّثَنَا بَقِيَّةُ عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ سَعِيدٍ عَنْ أَبِى قَبِيلٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِى قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ مَاتَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَوْ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ وُقِىَ فِتْنَةَ الْقَبْرِ ».[7]
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ حَدَّثَنِى أَبِى حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ أَبِى الْعَبَّاسِ حَدَّثَنَا بَقِيَّةُ حَدَّثَنِى مُعَاوِيَةُ بْنُ سَعِيدٍ التُّجِيبِىُّ سَمِعْتُ أَبَا قَبِيلٍ الْمِصْرِىَّ يَقُولُ سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ مَاتَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَوْ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ وُقِىَ فِتْنَةَ الْقَبْرِ ».[8]
Kedua, melalui tema. Metode ini menggunakan kitab Miftāḥ Kunūz al-Sunnah karya A.J Wensick (terj- Muhammad Fuad ʻAbd al-Bāqī) yang memuat kamus hadis berdasarkan tema. Penelusuran ini menggunakan tema al-Qubūr[9], yang menunjukkan keberadaannya pada Sunan al-Tirmiżī (kitāb 10 bāb 73) saja.
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِىٍّ وَأَبُو عَامِرٍ الْعَقَدِىُّ قَالاَ حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ سَعْدٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِى هِلاَلٍ عَنْ رَبِيعَةَ بْنِ سَيْفٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَمُوتُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَوْ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ إِلاَّ وَقَاهُ اللَّهُ فِتْنَةَ الْقَبْرِ ».[10]
Ketiga, melalui awal matan. Metode ini menggunakan kitab Mawsūʻah Aṭrōf al-Hadīṡ al-Nabawī al-Syarīf karya Muhammad al-Saʻīd b. Bayūnī Zaglūl yang memuat kamus hadis berdasarkan awal matan. Sesuai hadis tersebut maka mā min muslimin yamūtu yawmal jumʻah[11] terdapat pada dua kitab hadis:
Sunan al-Tirmiżī (kitāb 10 bāb 73)
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِىٍّ وَأَبُو عَامِرٍ الْعَقَدِىُّ قَالاَ حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ سَعْدٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِى هِلاَلٍ عَنْ رَبِيعَةَ بْنِ سَيْفٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَمُوتُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَوْ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ إِلاَّ وَقَاهُ اللَّهُ فِتْنَةَ الْقَبْرِ ».[12]
Musnad Aḥmad b. Ḥanbal (juz 2 halaman 169)
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ حَدَّثَنِى أَبِى حَدَّثَنَا أَبُو عَامِرٍ حَدَّثَنَا هِشَامٌ - يَعْنِى ابْنَ سَعْدٍ - عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِى هِلاَلٍ عَنْ رَبِيعَةَ بْنِ سَيْفٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَمُوتُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَوْ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ إِلاَّ وَقَاهُ اللَّهُ فِتْنَةَ الْقَبْرِ ».[13]
Skema Sanad




Skema tersebut menunjukkan bahwa hadis yang diriwayat al-Tirmiżī tidak memiliki muttabiʻ yakni, orang yang meriwayatkan hadis yang sama pada abaqat sahabat. Karena hanya ‘Abdullāh b. ‘Amr yang meriwayatkan hadis ini dikalangan sahabat. Maka hadis ini dihukumi gorīb. Namun hadis ini memiliki syawāhid yakni, orang yang meriwayatkan hadis yang sama pada ṭabaqat tābiʻīn. Terdapat dua orang yang meriwayatkan hadis ini dari kalangan tābiʻīn yaitu Rabīʻah b. Sayf dan Abū Qabīl. Uraian tersebut juga menunjukkan adanya common link / madār yakni Hisyām b. Saʻad dan Baqiyyah. Mereka mempopulerkan hadis tersebut kepada lebih dari satu orang.

Biografi dan Penilaian Periwayat
Berdasarkan skema sanad tersebut, terhitung delapan periwayat dari jalur al-Tirmiżī yaitu, ʻAbdullāh b. ʻAmr, Rabīʻah b. Sayf, Saʻīd b. Abū Hilāl, Hisyām b. Saʻad, ʻAbdurrahman b. Mahdī, Abū ʻĀmir, Muammad b. Bassyar, al-Tirmiżī. Sedangkan tujuh periwayat jalur Aḥmad b. Ḥanbal yaitu, ʻAbdullāh b. ʻAmr, Abū Qabīl, Muʻāwiyah b. Saʻīd, Baqiyyah, Surayj, Ibrāhīm b. Abū al-ʻAbbas, Amad b. anbal.
Untuk mengetahui biografi dan penilaian para periwayat, tulisan ini menggunakan kitab taḥżīb al-Taḥżīb karya Ibn Ḥajr al-ʻAsqalānī yang memuat biografi para periwayat hadis dan penilaiannya (al-jarḥ wa al-Taʻdīl). Adapun penilaiannya, berpijak pada kaidah taqdīm al-Jarḥ ʻalā al-Taʻdīl walaw kaṡura al-Muʻaddilūn, yang bermakna penilaian buruk (jarḥ) harus didahulukan meskipun banyak orang yang menilai baik (taʻdīl), dengan argumen bahwa pada dasarnya semua orang itu baik sehingga tidak semua orang mengetahui terhadap keburukan orang lain.
Tolak ukur penilaiannya, sebagaimana yang dikemukakan al-Żahabī, mengikuti mutaʻannitūn fī al-Jarḥ mutaṡabbitūn fī al-Taʻdīl atau kelompok mutasyaddid. Diantara mereka yaitu, Syuʻbah (160 H), Sufyān al-Ṡawrī (161 H), Ibn Mahdī (198 H), Yahyā l-Qaṭṭān (198 H), Ibn Maʻin (233 H), ʻAlī b. al-Madīnī (234 H), al-Bukhārī (256 H), Abū Ḥātim al-Rāzī (277 H).
Sebagaimana dua jalur sanad hadis tersebut maka penguraiannya menjadi empat belas periwayat.

Jalur periwayatan al-Tirmiżī
ʻAbdullāh b. ʻAmr (63 H)
                ʻAbdullāh b. ʻAmr b. al-ʻĀṣ b. Wā’il b. Hāsyim b. Suʻayd al-Qurasyī. Ibunya bernama Rā’iṭah b. Munabbah al-Sahmīyah. Ia salah seorang dari sahabat Nabi keturunan suku Qurasy dan masuk Islam sebelum ayahnya. Menurut satu pendapat, sebelum masuk Islam ia bernama al-ʻĀṣ.  Ia memiliki semangat dalam beribadah dan haus ilmu. Abū Hurayrah berkata: Tidak seorangpun yang lebih banyak meriwayatkan hadis Nabi dari pada aku kecuali ʻAbdullāh b. ʻAmr, karena ia menulis apa yang tidak aku tulis. Pada tahun 63 H bulan Żulijjah ia wafat di Mesir.
Ia meriwayatkan hadis dari; Rasūlullāh, Abū Bakr, ʻUmar, Abdurrahmān b. ʻAwf, Muʻāż b. Jabal, Abū al-Dardā’, Surāqah b. Mālik. Selain itu, ia memiliki murid di kalangan sahabat maupun tābiʻīn diantaranya, Anas b. Mālik, Abū Umāmah b. Sahl, Abdullāh b. al-Ḥāriṡ, Saʻīd b. al-Musayyab, Ṭāwūs, Abū ʻAbdurrahmān al-Ḥubulī.[14]
Dalam terminologi ilmu hadis, seorang sahabat dijamin keadilan dan kejujurannya dalam meriwayatkan hadis, sehingga periwayatannya dianggap mustahil dari dusta. Hal ini disepakati oleh mayoritas ulama Sunni. Dengan kata lain, dalam masalah periwayatan hadis, seluruh sahabat tidak ada yang tertolak periwayatannya, baik sahabat yang terlibat perang siffin maupun tidak.[15]
Rabīʻah b. Sayf (110 H)
Rabīʻah b. Sayf b. Mātiʻ al-Maʻāfirī al-unamī al-‘Iskandarānī. Ia dari Mesir dan wafat pada tahun 110 H. Diantara guru-gurunya adalah ʻAbdullāh b. ʻAmr, Fuḍōlah b. ʻUbayd, Abū ʻAbdurrahmān al-Ḥubulī. Ia juga memiliki murid diantaranya, Saʻīd b. Abū Ayyūb, Saʻīd b. Abū Hilāl, Nāfiʻ b. Zayd.
Penilaian terhadap Rabīʻah b. Sayf
Menurut al-Bukhārī, hadis ini tidak munkar, namun terdapat beberapa hadis munkar yang ia riwayatkan (ʻindahū manākir). Al-Nasā’ī berkata hadis ini ḍoīf (laysa bihī ba’s). Ibn Ḥibbān berpendapat bahwa ia banyak melakukan kesalahan (yukhṭi’u kaṡīran). Al-Tirmiżī juga mengatakan bahwa sanad ini tidak bersambung karena Rabīʻah b. Sayf meriwayatkan hadis ini dari al-ubulī dan kami tidak mengenal Rabīʻah b. Sayf mendengar langsung dari Ibn ʻAmr. Sementara al-Dāruquṭnī dan al-‘Ijlī berpendapat bahwa ia ṣālih dan ṡiqah.[16]
Berpijak pada kaidah taqdīm al-Jarḥ ʻalā al-Taʻdīl walaw kaṡura al-Muʻaddilūn maka Rabīʻah b. Sayf dinyatakan sebagai periwayat yang oʻīf karena mengaku mendapatkan hadis ini langsung dari Ibn ʻAmr (tadlīs syuyūkh) padahal dari al-ubulī sehingga sanadnya tidak bersambung dan ia memiliki beberapa hadis munkar.

Saʻīd b. Abū Hilāl (149 H)
Saʻīd b. Abū Hilāl al-Layṡī lahir di Mesir. Ia wafar pada tahun 149 H. Ia meriwayatkan hadis dari orang diantaranya, Jābir, Anas (secara mursal), Zayd b. Aslam, Rabīʻah b. Sayf. Sementara yang meriwayatkan hadis darinya adalah Saʻīd al-Maqbarī, Khālid b. Zayd al-Miṣrī, Hisyām b. Saʻad.
Penilaian terhadap Saʻīd b. Abū Hilāl
Menurut al-ʻIjlī, Ibn Khuzaymah, al-Dāruquṭnī, al-Bayhaqī, Ibn ʻAbd al-Barr dan al-Khaṭīb bahwa ia ṡiqah. Ibn Saʻad juga berkata demikian. Al-Sājī berpendapat bahwa ia odūq. Sementara Abū ḥātim berpendapat lā ba’sa bihī. Ibn azm juga mengatakan bahwa ia laysa bi al-Qawī.[17]
Dapat disimpulkan bahwa Saʻīd b. Abū Hilāl tidak bermasalah sebagaimana berpijak pada pendapat Abū Ḥātim bahwa ia dinilai lā ba’sa bihī yang bermakna ṣodūq, namun hadisnya hanya bisa ditulis dan dijadikan ‘iʻtibār (tidak sampai dijadikan ḥujjah). Sanadnya bersambung karena meriwayatkan langsung dari Rabīʻah b. Sayf.

Hisyām b. Saʻad (161 H)
Hisyām b. Saʻad al-Madīnī wafat pada tahun 161 H. Ia meriwayatkan hadis dari Zayd b. Aslam, Saʻīd al-Maqbarī, Nāfiʻ (mantan budak Ibn ʻUmar). Diantara orang yang meriwayatkan darinya, al-Lay, al-awrī, Muʻāwiyah b. Hisyām, Wakīʻ, Ibn Mahdī, Abū ʻĀmir al-ʻAqadī.
Penilaian terhadap Hisyām b. Saʻad
Menurut Ibn al-Madīnī ia seorang yang ṣālih wa laysa bi al-Qawī. Abū Zurʻah mengatakan bahwa ia maalah al-idqī. Al-ʻIjlī juga berkata jā’iz al-adīṡ ḥasan al-Ḥadīṡ. Sementara Abū Ḥātim berpendapat bahwa yuktabu ḥadīṡuhū lā yuḥtaju bihī. Ibn Maʻīn mengatakan ḍoʻīf ḥadīṡuhū mukhtaliṭ.
Dilihat dari tahun wafatnya, ia masih sezaman dengan Saʻīd b. Abū Hilāl. Bahkan ada kemungkinan untuk bertemu. Dengan demikian, Hisyām b. Saʻad dinilai ṣālih namun hadisnya tidak bisa dijadikan ujjah, hanya ditulis saja.

ʻAbdurrahman b. Mahdī (198 H)
ʻAbdurrahman b. Mahdī b. Ḥassān al-ʻAnbarī Abū Saʻīd al-Baṣrī al-Lu’lu’ al-Ḥāfiẓ al-Imām al-ʻAlam adalah . Diantara guru-gurunya adalah, Hisyām b. Saʻad, Ayman b. Nābil, Mahdī b. Maymūn. Sementara yang meriwayatkan darinya yaitu, Ibn al-Mubārak, Ibn Wahb, Yaḥyā b. Maʻīn. Ia wafat pada tahun 198 H.
Penilaian terhadap ʻAbdurrahman b. Mahdī
Menurut Ibn al-Madīnī ia aʻlam al-Nās, kāna wirdu ‘Abdirramān kulla laylatin nifa al-Qur’ān. Ibn Ḥibbān juga berpendapat al-ḥuffāẓ al-Mutqinīn, ahl al-Waraʻ fī al-Dīn. Hanbal berkata dari ‘Abdullāh bahwa ʻAbdurrahman afqah al-Rajulayn (min yayā b. Saʻīd). Abū ḥātim juga berpendapat bahwa ia abatu aṣḥābi ammād b. Zayd, imāmun iqatun abatu min yayā b. Saʻīd wa atqana min Wakīʻ. Ibn Saʻad berkata iqatun kaṡīr al-adīṡ.[18]
Dapat disimpulkan bahwa ʻAbdurrahman b. Mahdī dinilai ṡiqah. Tidak terdapat satu pun yang menilainya buruk sehingga periwayat ini tidak bermasalah dan hadisnya bisa dijadikan ḥujjah.

Abū ʻĀmir (204 H)
Abū ʻĀmir al-ʻAqadī merupakan kunyah baginya. Nama aslinya ‘Abd al-Malik b. ‘Amr al-Qaysī al-Baṣrī. Ia meriwayatkan dari beberapa diantaranya, Ayman b. Nābil, Sakhōmah b. ‘Abdurrahmān, ‘Ikrimah b. ‘Ammār. Sementara yang meriwayatkan darinya adalah Aḥmad, Isḥāq, ‘Alī, Bundār. Ia wafat pada tahun 204 H.
Penilaian terhadap Abū ʻĀmir
Menurut Ibn Maʻīn ia adūq. Ibn Mahdī juga berkata auaqu syaykh. Ishāq berpendapa bahwa ia al-Fiqh al-Amīn. Ibn Saʻad mengatakan bahwa ia iqah. ‘Umān al-Dārimī berkata Abū ʻĀmir iqah ‘āqil.[19]
Dapat disimpulkan bahwa Abū ʻĀmir al-ʻAqadī bernilai iqah karena tidak satupun yang men-jarnya.

Muammad b. Bassyār, Bundār (252 H)
Muammad b. Bassyar b. ʻUmān al-ʻAbdī Abū Bakr al-Ḥāfiẓ al-Baṡrī Bundār. Yang meriwayatkan  hadis dari ‘Abd al-Wahhāb, Gundar, Ibn Mahdī, Abū ‘Āmir al-‘Aqadī, Abū Dāwūd al-Ṭoyālisī. Sementara diantara murid-muridnya, al-Jamāʻah, al-Nasā’ī, Abū Ḥātim, Abū Zurʻah, Abdullāh b. Aḥmad. Ia wafat pada tahun 252 H.
Penilaian terhadap Muammad b. Bassyar
Menurut al-‘Ijlī ia iqah kaṡīr al-adīṡ. Abū Ḥātim berkata ia ṣadūq. Al-Nasā’ī juga berpendapat ṣālih lā ba’sa bihī. Menurut Ibn Khuzaymah ia adalah seorang imām. Al-Dāruquṭnī mengatakan bahwa ia al-Ḥuffāẓ al-Aṡbāt.
                Dapat disimpulkan bahwa ia seorang yang iqah. Hadisnya bisa dijadikan ujjah.


Al-Tirmiżī (279 H)
Muammad b. ‘Isā b. Sawrah b. Musā b. al-Ḍohhāk al-Sulamī. Ia meupakan salah satu Imam. Salah satu karyanya adalah al-Jāmīʻ al-Kabīr atau biasa disebut Sunan al-Tirmiżī. Dalam meriwayatkan hadis berguru pada Abū Ḥāmid al-Marwazī, al-Hayṡam b. Kulayb al-Syāsyī, Muḥammad b. Maḥbūb al-Marwazī, Aḥmad b. Yūsuf al-Nasafī, Dāwūd b. Naṣr al-Bazdawī. Ia wafat di Tirmiż tahun 279 H malam senin. Al-Idrīs berkata bahwa ia aad al-A’immah.[20]

Tabel Penilaian Para Periwayat
No.
Nama
Penilai
Lafaẓ
Natījah
1.
ʻAbdullāh b. ʻAmr
-
-
Sahabat
2.
Rabīʻah b. Sayf
Al-Bukhārī
 ‘Indahū manākir
Ḍoʻīf karena tadlīs syuyūkh.
3.
Saʻīd b. Abū Hilāl
Abū Ḥātim
Lā ba’sa bihī
Ṣadūq namun tidak dijadikan ḥujjah
4.
Hisyām b. Saʻad
Ibn al-Madīnī
Ṣālih
Ṣālih tapi tidak dijadikan ḥujjah
5.
ʻAbdurrahman b. Mahdī
Ibn al-Madīnī
Aʻlam al-Nās
Aʻlam al-Nās dan bisa dijadikan ḥujjah
6.
Abū ʻĀmir al-ʻAqadī
Ibn Mahdī
Auṡaqu syaykh
Ṡiqah dan bisa dijadikan ḥujjah

7.
Muḥammad b. Bassyar (Bundār)
Abū Ḥātim
Ṣadūq
Ṡiqah dan bisa dijadikan ḥujjah

8.
Al-Tirmiżī
Al-Idrīs
Aḥad al-a’immah
Imām

Natījah
Sebagaimana kritik terhadap para periwayat tersebut maka hadis jalur al-Tirmiżī adalah gorib karena tidak memiliki muttabiʻ. Kredibilitas para periwayat tersebut dinilai iqah kecuali Rabīʻah b. Sayf. al-Tirmiżī mengemukakan, ia tidak meriwayatkan langsung dari ‘Abdullāh b. ‘Amr melainkan dari Abū ‘Abdurrahmān al-Ḥubulī, maka Rabīʻah b. Sayf telah melakukan tadlīs al-Syuyukh yakni tidak menyebutkan perowi yang ia mendapat hadis darinya dengan menisbatkan kepada selainnya, karena Abū ‘Abdurrahmān al-Ḥubulī salah satu gurunya. Ditambah taammul al-Adāmenggunakkan ‘anʻan yang melemahkan sanad sehingga menurut sebagian ulama hadisnya tidak diterima atau tidak dijadikan ujjah.
Dapat disimpulkan sanad hadis riwayat al-Tirmiżī tidak memenuhi kriteria keaḥīhan hadis karena tidak adanya ketersambungan sanad (‘adam al-Ittiṣōl)  pada Rabīʻah b. Sayf. Sehingga sanadnya dinilai oʻīf.
Jalur Periwayatan Amad b. anbal
ʻAbdullāh b. ʻAmr
ʻAbdullāh b. ʻAmr b. al-ʻĀṣ b. Wā’il b. Hāsyim b. Suʻayd al-Qurasyī. Ibunya bernama Rā’iṭah b. Munabbah al-Sahmīyah. Ia salah seorang dari sahabat Nabi keturunan suku Qurasy dan masuk Islam sebelum ayahnya. Menurut satu pendapat, sebelum masuk Islam ia bernama al-ʻĀṣ.  Ia memiliki semangat dalam beribadah dan haus ilmu. Abū Hurayrah berkata: Tidak seorangpun yang lebih banyak meriwayatkan hadis Nabi dari pada aku kecuali ʻAbdullāh b. ʻAmr, karena ia menulis apa yang tidak aku tulis. Pada tahun 63 H bulan Żulijjah ia wafat di Mesir.
Ia meriwayatkan hadis dari; Rasūlullāh, Abū Bakr, ʻUmar, Abdurrahmān b. ʻAwf, Muʻāż b. Jabal, Abū al-Dardā’, Surāqah b. Mālik. Selain itu, ia memiliki murid di kalangan sahabat maupun tābiʻīn diantaranya, Anas b. Mālik, Abū Umāmah b. Sahl, Abdullāh b. al-Ḥāriṡ, Saʻīd b. al-Musayyab, Ṭāwūs, Abū ʻAbdurrahmān al-Ḥubulī.[21]
Dalam terminologi ilmu hadis, seorang sahabat dijamin keadilan dan kejujurannya dalam meriwayatkan hadis, sehingga periwayatannya dianggap mustahil dari dusta. Hal ini disepakati oleh mayoritas ulama Sunni. Dengan kata lain, dalam masalah periwayatan hadis, seluruh sahabat tidak ada yang tertolak periwayatannya, baik sahabat yang terlibat perang siffin maupun tidak.[22]

Abū Qabīl (128 H)
uyay b. Hāni’ b. Nāḍir b. Yamnaʻ al-Maʻāfirī al-Miṣrī adalah nama lengkapnya. Dalam meriwayatkan hadis berguru pada ‘Ubādah b. al-Ṣōmit, ‘Amr b. al-‘Aṣ, ʻAbdullāh b. ʻAmr, ‘Uqbah b. ‘Āmir al-Juhhanī. Sementara murid-muridnya adalah Yazīd b. Abī ubayb, Bakr b. Muar, al-Layṡ.
Penilaian terhadap Abū Qabīl
Menurut Amad, Ibn Maʻīn dan Abū Zurʻah ia iqah. Abū Ḥātim berpendapat ṣālih al-adīṡ. Ibn Ḥibbān juga berkata kāna yukhṭi’. Yaʻqūb b. Syuʻbah mengatakan bahwa ia kāna lahū ‘ilm bi al-Malāhim al-Fitan.[23]
Dapat disimpulkan bahwa Abū Qabīl dinilai iqah karena tidak ada alasan atau pendapat yang men-jarnya.

Muʻāwiyah b. Saʻīd
Muʻāwiyah b. Saʻīd b. Syurayh b. ‘Urwah al-Tajībī. Ia meriwayatkan hadis dari Abū Qabīl, Yazīd b. Abī Ḥubayb, Abū Hāni’ al-Khawlanī, ‘Abdullāh b. Muslim. Sementara murid-muridnya adalah Rusyd b. Saʻad, Baqiyyah, Yayā b. Ayyūb.
Penilaian terhadap Muʻāwiyah b. Saʻīd
Menurut Ibn Ḥibbān ia iqah. Ibn Ḥajr berpendapat bahwa ia maqbūl.[24]
Sebagaimana penilaian tersebut maka Muʻāwiyah b. Saʻīd dinilai perowi yang ṡiqah.



Baqiyyah (197 H)
Baqiyyah b. al-Walīd b. ṣōid b. Kaʻab al-Kilāʻī lahir pada tahun 110 H. Ia meriwayatkan dari Muḥammad b. Ziyād, Ibn Jurayz, al-Awzāʻī. Murid-muridnya adalah al-Awzāʻī, Ibn al-Mubārak, Syuʻbah. Pada tahun 197 H ia wafat.
Penilaian terhadap Baqiyyah
Menurut Ibn al-Madīnī ia ṡālih dari riwayat ahl Syam. Ibn Maʻīn berkata bahwa kāna yuhaddiu ‘an al-Ḍuʻafā’ bi mia’ah hadīṡ qabla an yuḥaddiṡa ‘an al-Ṡiqāt. Al-Dāruquṭnī mengatakan bahwa ia ahl al-Ḥadīṡ. Abū Ḥāṭim berpendapat bahwa yuktabu ḥadīṡuhū lā yuḥtaju bihī. Menurut Ibn al-Mubārak berkata ia ṣadūq.[25]
                Dapat disimpulkan bahwa Baqiyyah dinilai adūq tapi hadisnya tidak dijadikan ujjah, hanya ditulis.

Surayj (217H)
Surayj b. al-Nuʻmān b. Marwān al-Jawharī al-Lu’luī. Ia meriwayatkan hadis dari Fulay b. Sulaymān, al-Ḥakam b. ‘Abd al-Malik, Ibn Abī Zinād. Sementara yang meriwayatkan darinya adalah al-Bukhārī, Ibn Abī Syaybah, al-Fal b. Sahl.
Penilaian terhadap Surayj
Menurut al-‘Ijlī, Ibn Maʻīn, Abū Dāwūd, dan Ibn Saʻad ia iqah. Al-Nasāī berpendapat bahwa laysa bihī ba’s. Sementara al-Dāruqunī berkata iqah ma’mūn.[26]
                Dapat disimpulkan bahwa Surayj dinilai iqah karena tidak ada pendapat yang menilai ia buruk.

Ibrāhīm b. Abū al-ʻAbbas
Ibrāhīm b. Abū al-ʻAbbas atau biasa disebut Ibn Abū al-‘Abbās al-Sāmirī Abū Ishāq al-Kūfī. Ia tinggal di Baghdad. Ia meriwayatkan hadis dari Syurayk al-Qāḍī, Ibn Abī al-Zinād, Baqiyyah. Sementara murid-muridnya adalah Aḥmad b. Hanbal, al-Ṣogōnī, al-Dūrī, ‘Iddah.
Penilaian terhadap Ibrāhīm b. Abū al-ʻAbbas
                Menurut Amad ia ṣalih al-Ḥādīṡ. Abū Ḥātim berpendapat bahwa ia syaykh. Murrah juga mengatakan bahwa ia ṡiqah lā ba’sa bihī. al-Dāruquṭnī berkata ṡiqah. Ibn Saʻad berkata kāna ikhtalaṭa ākhira ‘umrahū.[27]
Dapat disimpulkan bahwa Ibrāhīm b. Abū al-ʻAbbas dinilai syaykh dan hadisnya bisa ditulis dijadikan iʻtibār, tidak sampai dijadikan ḥujjah. Karena pada akhir usianya ia berbuat kesalahan.

Amad b. anbal
Amad b. Muammad b. Ḥanbal b. Hilāl al-Bagdādī. Ia meriwayatkan hadis dari Bisyr al-Mufaḍḍol, Sufyān b. ‘Uyaynah. Sementara murid-muridnya adalah al-Bukhārī, Muslim, anaknya.
Penilaian terhadap Amad b. anbal
‘Abd al-Razzāq berpendapat bahwa ia afqahu, awraʻu. Menurut Al-‘Ijlī ia ṡiqah ṡabat fī al-Ḥadīṡ. Al-‘Abbās al-ʻAnbarī berkata ḥujjah. Al-Syāfiʻī juga mengatakan bahwa ia afqahu, azhadu, awraʻu, aʻlamu. Dan menurut Yaḥyā b. Iram bahwa Aḥmad imāmunā.[28]
                Dapat disimpulkan bahwa Amad b. anbal dinilai iqah, bahkan ia adalah seorang imam.

Tabel Penilaian Para Periwayat  
No.
Nama
Penilai
Lafaẓ
Natījah
1.
ʻAbdullāh b. ʻAmr
-
-
Sahabat
2.
Abū Qabīl
Abū Ḥātim
Ṣālih al-adīṡ
  Ṣālih dan hadisnya hanya ditulis sebagai i’tibār
3.
Muʻāwiyah b. Saʻīd
Ibn Ḥajr
Maqbūl
Maqbūl, hadisnya diterima
4.
Baqiyyah
Abū Ḥāṭim
Yuktabu ḥadīṡuhū lā yuḥtaju bihī
Ṣadūq dan hadisnya hanya ditulis
5.
Surayj
Ibn Maʻīn
iqah
iqah
6.
Ibrāhīm b. Abū al-ʻAbbas
Abū Ḥātim
Syaykh
Syaykh dan bisa dijadikan ḥujjah

7.
Amad b. anbal
Abd al-Razzāq
Afqahu
Maqbūl, bisa dijadikan ḥujjah


Natījah
Tabel penilaian pada jalur Amad b. Ḥanbal menunjukkan bahwa semua periwayat dinilai iqah. Namun sebagaimana pendapat Abū Ḥāṭim hadisnya tidak dijadikan ujjah. Terdapat periwayat yang diduga memiliki jar, yakni Baqiyyah. Menurut Yayā b. Maʻīn Baqiyyah pernah meriwayatkan 100 hadis oʻīf  sebelum ia meriwayatkan hadis iqah. Pendapat ini dikuatkan oleh Ibn Saʻad, Ibn al-Madīnī dan al-ʻIjlī. Dalam kitab taysīr muṣṭala al-Ḥadīṡ disebutkan bahwa Baqiyyah termasuk periwayat yang terkenal melakukan tadlīs al-Taswiyyah. Maka sanad pada jalur Aḥmad b. Ḥanbal belum memenuhi kriteria keṣaḥīḥan sanad hadis, karena terdapat periwayat yang keʻadalahannya kurang. Maka sanad hadis ini dinilai ḍoʻīf.

Kritik Matan Hadis “mā min muslimin yamūtu yawmal jumʻah...”
Maksud hadis tersebut sebagaimana dikemukakan oleh ‘Abdurra’ūf b. Tāj bahwa seseorang yang meninggal pada hari atau malam jum’at maka sungguh segala penutup akan terbuka karena pada hari itu pintu-pintu Jahannam ditutup bahkan malaikat penjaga neraka pun diam, tidak seperti hari-hari biasanya. Apabila seorang mukmin dicabut nyawa pada hari jum’at yang mana hari berlimpahnya ke-Agungan rahmat Allah yang tak terhingga maka akan ditulis kebahagiaan baginya yakni terhindar dari fitnah kubur.[29]
Jika diteliti hadis ini diduga memiliki kejanggalan, karena tidak semua orang akan beruntung terhadap kematiannya di hari jumʻat. Dikhawatirkan ada seseorang yang sengaja bunuh diri di hari jum’at hanya karena terdorong hadis tersebut. Berkenaan dengan peryataan tersebut menurut al-Zayn b. al-Munīr waktu kematian bukanlah suatu pilihan tapi untuk mencapai hal itu terdapat suatu cara. Misalnya ia mengharap kepada Allah dengan maksud mendapat keberkahan (tabarruk). Jika tidak tercapai maka pengharapan tersebut sudah menjadi suatu kebaikan.
Sebagaimana yang dikemukakan al-Qārī bahwa kata min memiliki makna umum, mencakup orang fasik, namun jika dikatakan tanwīn pada kata muslim maka bermakna taʻẓīm. Jika seperti itu maka yang dimaksud adalah muslim yang taʻat, karena merekalah yang pantas mendapatkan keistimewaan yakni akan terhindar dari pertanyaan dan siksa kubur. Maka hadis ini menunjukkan bahwa keistimewaan waktu  memiliki pengaruh besar sebagaimana keistimewaan tempat.[30]

Simpulan
                Dapa disimpulkan bahwa hadis ini tidak memiliki kejanggalan, sebagaimana al-Qārī berpendapat; yang berhak mendapatkan keistimewaan terhindar dari siksa kubur adalah muslim yang taʻat dalam beribadah, bukan muslim ahl maksiat. Meski hadis ini dinilai oʻīf, tidak masalah jika untuk memotivasi seseorang untuk lebih giat dalam mentaʻati perintah Allah. Karena terlepas dari itu, tidak akan menjadi masalah waktu kematian seorang muslim jika ia selalu taʻat kepada Allah maka ketaʻatannya akan menjauhkannya dari siksaan.






















Daftar Pustaka
Wensinck, A.J, al-Muʻjam al-Mufahras li Alfaẓ al-Hadīṡ al-Nabawī  terj. Muhammad Fu’ād ʻAbd al-Bāqī (Leiden: Brill, 1946).
Al-Tirmiżī, Muḥammad b. ʻĪsā, Sunan al-Tirmiżī (Beirut: Dār al-Gorb al-Islāmī, 1996).
B. Ḥanbal, Aḥmad, Musnad Aḥmad b. Ḥanbal (Beirut: Dār al-Fikr).
Wensinck, A.J, Miftāḥ Kunūz al-Sunnah terj. Muhammad Fu’ād ʻAbd al-Bāqī (Leiden: Brill, 1946).
Zaglūl, Muḥammad al-Saʻīd b. Bayūnī, Mawsūʻah Aṭrōf al-Hadīṡ al-Nabawī al-Syarīf (Beirut: Dār al-Kutb al-ʻIlmiyyah)..
Al-ʻAsqalānī, Ibn Ḥajr, Taḥżīb al-Taḥżīb (Beirut: Muassasah al-Risālah, 1995), j. 2, h. 393.
Faruqi, Ahmad, Skripsi “Kritik Sanad dan Matan Hadis Tentang Keringanan Bagi Orang Yang Meninggal di Hari Jum’at”, Jurusan Tafsir Hadis, Fakultas Ushuluddin, UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, 2014.
B. Tāj, Abdurra’ūf, Fayḍ al-Qadīr Syarḥ al-Jāmiʻ al-Ṣogīr (Mesir: al-Maktabah al-Tijāriyah al-Kubrā, 1356).
Al-Mubārakfūrī, ‘Ubaydillāh b. Muḥammad, Muraʻāh al-Mafātīh Syarḥ Misykāh al-Maṣābīḥ (Hind: al-Jāmiʻah al-Salafiyah, 1984).


[1] A.J Wensinck, al-Muʻjam al-Mufahras li Alfaẓ al-Hadīṡ al-Nabawī  terj. Muhammad Fu’ād ʻAbd al-Bāqī (Leiden: Brill, 1946), juz. 3, h. 129.
[2] A.J Wensinck, al-Muʻjam al-Mufahras li Alfaẓ al-Hadīṡ al-Nabawī  terj. Muhammad Fu’ād ʻAbd al-Bāqī (Leiden: Brill, 1946), juz. 6, h. 286. 
[3] A.J Wensinck, al-Muʻjam al-Mufahras li Alfaẓ al-Hadīṡ al-Nabawī  terj. Muhammad Fu’ād ʻAbd al-Bāqī (Leiden: Brill, 1946), juz. 1, h. 369.
[4] A.J Wensinck, al-Muʻjam al-Mufahras li Alfaẓ al-Hadīṡ al-Nabawī  terj. Muhammad Fu’ād ʻAbd al-Bāqī (Leiden: Brill, 1946), juz. 7, h. 294.
[5] Muḥammad b. ʻĪsā al-Tirmiżī. Sunan al-Tirmiżī (Beirut: Dār al-Gorb al-Islāmī, 1996), j. 3, h. 372.
[6] Aḥmad b. Ḥanbal, Musnad Aḥmad b. Ḥanbal (Beirut: Dār al-Fikr), j. 2, h. 169.
[7] Aḥmad b. Ḥanbal, Musnad Aḥmad b. Ḥanbal (Beirut: Dār al-Fikr), j. 2, h. 176.
[8] Aḥmad b. Ḥanbal, Musnad Aḥmad b. Ḥanbal (Beirut: Dār al-Fikr), j. 2, h. 220.
[9] A.J Wensinck, Miftāḥ Kunūz al-Sunnah terj. Muhammad Fu’ād ʻAbd al-Bāqī (Leiden: Brill, 1946), h. 389.
[10] Muḥammad b. ʻĪsā al-Tirmiżī. Sunan al-Tirmiżī (Beirut: Dār al-Gorb al-Islāmī, 1996), j. 3, h. 372.
[11] Muḥammad al-Saʻīd b. Bayūnī Zaglūl, Mawsūʻah Aṭrōf al-Hadīṡ al-Nabawī al-Syarīf (Beirut: Dār al-Kutb al-ʻIlmiyyah), j. 9, h. 292.
[12] Muḥammad b. ʻĪsā al-Tirmiżī. Sunan al-Tirmiżī. (Beirut: Dār al-Gorb al-Islāmī, 1996), j. 3, h. 372.
[13] Aḥmad b. Ḥanbal, Musnad Aḥmad b. Ḥanbal. (Beirut: Dār al-Fikr), j. 2, h. 169.
[14] Ibn Ḥajr al-ʻAsqalānī, taḥżīb al-Taḥżīb (Beirut: Muassasah al-Risālah, 1995), j. 2, h. 393.
[15] Ahmad Faruqi, Skripsi “Kritik Sanad dan Matan Hadis Tentang Keringanan Bagi Orang Yang Meninggal di Hari Jum’at”, Jurusan Tafsir Hadis, Fakultas Ushuluddin, UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, 2014.
[16] Ibn Ḥajr al-ʻAsqalānī, Taḥżīb al-Taḥżīb (Beirut: Muassasah al-Risālah, 1995), j. 1, h. 597.
[17] Ibn Ḥajr al-ʻAsqalānī, Taḥżīb al-Taḥżīb (Beirut: Muassasah al-Risālah, 1995), j. 2, h. 48.
[18] Ibn Ḥajr al-ʻAsqalānī, Taḥżīb al-Taḥżīb (Beirut: Muassasah al-Risālah, 1995), j. 2, h. 556.
[19] Ibn Ḥajr al-ʻAsqalānī, Taḥżīb al-Taḥżīb (Beirut: Muassasah al-Risālah, 1995), j. 2, h. 619.
[20] Ibn Ḥajr al-ʻAsqalānī, Taḥżīb al-Taḥżīb (Beirut: Muassasah al-Risālah, 1995), j. 3, h. 668. 
[21] Ibn Ḥajr al-ʻAsqalānī, taḥżīb al-Taḥżīb (Beirut: Muassasah al-Risālah, 1995), j. 2, h. 393.
[22] Ahmad Faruqi, Skripsi “Kritik Sanad dan Matan Hadis Tentang Keringanan Bagi Orang Yang Meninggal di Hari Jum’at”, Jurusan Tafsir Hadis, Fakultas Ushuluddin, UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, 2014.
[23] Ibn Ḥajr al-ʻAsqalānī, Taḥżīb al-Taḥżīb (Beirut: Muassasah al-Risālah, 1995), j. 1, h. 510.
[24] Ibn Ḥajr al-ʻAsqalānī, Taḥżīb al-Taḥżīb (Beirut: Muassasah al-Risālah, 1995), j. 4, h. 106.
[25]  Ibn Ḥajr al-ʻAsqalānī, Taḥżīb al-Taḥżīb (Beirut: Muassasah al-Risālah, 1995), j. 1, h. 239.
[26] Ibn Ḥajr al-ʻAsqalānī, Taḥżīb al-Taḥżīb (Beirut: Muassasah al-Risālah, 1995), j. 1, h. 686.
[27] Ibn Ḥajr al-ʻAsqalānī, Taḥżīb al-Taḥżīb (Beirut: Muassasah al-Risālah, 1995), j. 1, h. 70.
[28] Ibn Ḥajr al-ʻAsqalānī, Taḥżīb al-Taḥżīb (Beirut: Muassasah al-Risālah, 1995), j. 1, h. 43.
[29] ‘Abdurra’ūf b. Tāj, Fayḍ al-Qadīr Syarḥ al-Jāmiʻ al-Ṣogīr (Mesir: al-Maktabah al-Tijāriyah al-Kubrā, 1356), j. 5, h. 499.
[30] ‘Ubaydillāh b. Muḥammad al-Mubārakfūrī, Muraʻāh al-Mafātīh Syarḥ Misykāh al-Maṣābīḥ (Hind: al-Jāmiʻah al-Salafiyah, 1984), h. 440.