Kritik Sanad dan Matan Hadis
Tentang Misteri Kematian di Hari Jum’at
Sri Fajri Yanti/11150340000251
Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatulah
Jakarta
Abstrak: Tulisan ini menunjukkan hadis tentang keistimewaan
wafatnya muslim pada hari jum’at adalah ḍoʻīf pada riwayat al-Tirmiżī karena terdapat periwayat yang tidak bersambung dengan
sahabat. Pendapat ini dikemukakan oleh al-Tirmiżī. Argumen lainnya bahwa al-Bukhārī tidak mengkategorikannya kedalam hadis ṣaḥīḥ karena
tidak memenuhi kriteria keṣaḥīḥan hadis yaitu, tidak ada ketersambungan antara Rabīʻah b. Sayf dan
‘Abdullāh b. ‘Amr. Hadis ini tidak memiliki
kejanggalan, karena yang berhak mendapatkan keistimewaan terhindar dari siksa
kubur adalah muslim yang taʻat dalam beribadah, bukan muslim ahl maksiat.
Kata Kunci: Sanad, matan, muslim, jumʻat.
Pendahuluan
Banyak hadis beredar di masyarakat yang sudah
menjadi bagian dari tradisi dan kepercayaan, namun keotentikannya masih harus
dipertanggungjawabkan. Misalnya hadis tentang seorang muslim yang meninggal
pada hari jum’at akan terhindar dari siksa kubur.
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ
بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِىٍّ وَأَبُو عَامِرٍ
الْعَقَدِىُّ قَالاَ حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ سَعْدٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِى
هِلاَلٍ عَنْ رَبِيعَةَ بْنِ سَيْفٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ قَالَ
رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَمُوتُ
يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَوْ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ إِلاَّ وَقَاهُ اللَّهُ فِتْنَةَ
الْقَبْرِ ». رواه الترمذى
Artinya: “..Rasūlullāh s.a.w bersabda; tidak ada seorang
muslim pun yang meninggal pada hari jum’at atau malam jum’at kecuali Allah akan
menjaganya dari fitnah kubur” (HR al-Tirmiżī).
Berdasarkan rasionalitas, hadis ini memiliki
kejanggalan dari segi matan. Hanya dengan meninggal di hari jum’at seseorang
bisa mendapatkan reward, yaitu terhindar dari siksa kubur. Padahal
syarat seseorang selamat dari siksaan adalah dengan memperbanyak amal ṣāliḥ.
Berpijak pada teks dan rasionalitas terhadap
hadis tersebut maka setidaknya ada beberapa permasalahan yang dapat
diidentifikasikan sebagai berikut. Pertama, faktor adanya hadis populer. Kedua,
respon masyarakat terhadap hadis yang mengandung reward. Ketiga,
kesakralan hari jum’at. Keempat, kritik terhadap kualitas sanad dan matan.
Tulisan ini akan membahas permasalahan keempat,
yaitu kritik terhadap kualitas sanad dan matan. Permasalahan ini dipilih karena
dapat menjawab kualitas hadis dari segi sanad dan matan yang berdampak terhadap
asumsi masyarakat. Pertanyaan yang akan dijawab oleh penelitian ini adalah
bagaimana kualitas sanad dan matan hadis tentang kematian orang yang meninggal
di hari jum’at.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ke-ṣaḥīḥ-an sanad dan matan hadis, juga meluruskan pandangan
masyarakat terhadap hadis tersebut.
Sumber data penelitian ini adalah hadis
riwayat al-Tirmiżī. Metode penelitian yang digunakan adalah takhrīj al-Ḥadīṡ
sebagai pengumpulan data, yakni menelusuri keberadaan hadis berdasarkan
literatur hadis. Terdapat tiga cara yang digunakan. Pertama, melalui kata. Kedua, melalui tema.
Ketiga, melalui awal matan. Sedangkan pengolahan data menggunakan kitab taḥżīb
al-Taḥżīb karya Ibn Ḥajar
al-ʻAsqalānī yang berfungsi sebagai kumpulan biografi para periwayat hadis (rijāl al-Ḥadīṡ)
dan penilaian para ulama terhadap mereka (jarh wa al-Ta’dīl).
Beberapa studi kritik sanad dan matan hadis tentang hadis
ini telah dilakukan oleh sejumlah sarjana, diantaranya skripsi yang berjudul “studi
kritik sanad dan matan hadis tentang keringanan bagi orang yang meninggal di
hari jum’at” yang ditulis oleh Ahmad Shalahudin Al-Faruqi mahasiswa jurusan
tafsir hadis pada tahun 2014.
Tulisan ini disusun dengan empat pembahasan.
Pertama, pendahuluan yang memuat persoalan hadis populer yang keabsahannya
perlu dipertanggungjawabkan dengan bersumber pada hadis riwayat al-Tirmiżī dan metode takhrīj al-Ḥadīṡ sebagai pengumpulan
data. Kedua, penelitian ini menjalankan prosedur kritik sanad dan matan dengan
berpedoman pada isnad cum matn. Ketiga, memuat simpulan dari
permasalahan yang diangkat.
Keberadaan Hadis “mā min muslimin yamūtu yawmal jumʻah...” dalam
Literatur Hadis
Penelitian ini menggunakan tiga metode takhrīj dalam menelusuri keberadaan hadis. Pertama,
melalui kata. Metode ini menggunakan kitab al-Muʻjam al-Mufahras
li Alfaẓ al-Hadīṡ al-Nabawī karya A.J Wensick (terj- Muhammad
Fuad ʻAbd al-Bāqī) sebagaimana memuat kamus hadis berdasarkan kata yang
ditelusuri. Diantara kata yang ditelusuri; muslim,
yamūtu (mawt),
jumuʻah
dan waqō.
Muslim : Sunan al-Tirmiżī (kitāb 10 bāb 73) dan Musnad Aḥmad
b. Ḥanbal (juz 2 halaman 169)
Yamūtu(mawt) :
Sunan al-Tirmiżī (kitāb 10 bāb 73) dan Musnad Aḥmad
b. Ḥanbal (juz 2 halaman 169,
220)
Jumuʻah : Sunan al-Tirmiżī (kitāb 10 bāb 73) dan Musnad Aḥmad
b. Ḥanbal (juz 2 halaman 169,
176, 220)
Waqō : Sunan al-Tirmiżī (kitāb 10 bāb 73) dan Musnad Aḥmad
b. Ḥanbal (juz 2 halaman 169)
Penelusuran kata tersebut menunjukan hanya
pada dua kitab hadis:
Sunan al-Tirmiżī (kitāb 10 bāb 73)
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ
بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِىٍّ وَأَبُو عَامِرٍ
الْعَقَدِىُّ قَالاَ حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ سَعْدٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِى
هِلاَلٍ عَنْ رَبِيعَةَ بْنِ سَيْفٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ قَالَ
رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَمُوتُ
يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَوْ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ إِلاَّ وَقَاهُ اللَّهُ فِتْنَةَ
الْقَبْرِ ».
Musnad Aḥmad b. Ḥanbal (juz 2 halaman 169,
176, 220)
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ
حَدَّثَنِى أَبِى حَدَّثَنَا أَبُو عَامِرٍ حَدَّثَنَا هِشَامٌ - يَعْنِى ابْنَ
سَعْدٍ - عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِى هِلاَلٍ عَنْ رَبِيعَةَ بْنِ سَيْفٍ عَنْ عَبْدِ
اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « مَا مِنْ
مُسْلِمٍ يَمُوتُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَوْ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ إِلاَّ وَقَاهُ
اللَّهُ فِتْنَةَ الْقَبْرِ ».
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ
حَدَّثَنِى أَبِى حَدَّثَنَا سُرَيْجٌ حَدَّثَنَا بَقِيَّةُ عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ
سَعِيدٍ عَنْ أَبِى قَبِيلٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِى
قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ مَاتَ يَوْمَ
الْجُمُعَةِ أَوْ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ وُقِىَ فِتْنَةَ الْقَبْرِ ».
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ
حَدَّثَنِى أَبِى حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ أَبِى الْعَبَّاسِ حَدَّثَنَا
بَقِيَّةُ حَدَّثَنِى مُعَاوِيَةُ بْنُ سَعِيدٍ التُّجِيبِىُّ سَمِعْتُ أَبَا
قَبِيلٍ الْمِصْرِىَّ يَقُولُ سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ
يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ مَاتَ يَوْمَ
الْجُمُعَةِ أَوْ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ وُقِىَ فِتْنَةَ الْقَبْرِ ».
Kedua, melalui tema. Metode ini menggunakan kitab Miftāḥ Kunūz al-Sunnah
karya A.J Wensick (terj- Muhammad Fuad ʻAbd al-Bāqī) yang memuat kamus hadis
berdasarkan tema. Penelusuran ini menggunakan tema al-Qubūr,
yang menunjukkan keberadaannya pada Sunan al-Tirmiżī (kitāb 10 bāb 73) saja.
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ
بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِىٍّ وَأَبُو عَامِرٍ
الْعَقَدِىُّ قَالاَ حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ سَعْدٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِى
هِلاَلٍ عَنْ رَبِيعَةَ بْنِ سَيْفٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ قَالَ
رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَمُوتُ
يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَوْ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ إِلاَّ وَقَاهُ اللَّهُ فِتْنَةَ
الْقَبْرِ ».
Ketiga, melalui awal matan. Metode ini menggunakan kitab Mawsūʻah Aṭrōf
al-Hadīṡ al-Nabawī al-Syarīf karya Muhammad al-Saʻīd b. Bayūnī
Zaglūl yang memuat
kamus hadis berdasarkan awal matan. Sesuai hadis tersebut maka mā min muslimin yamūtu yawmal jumʻah
terdapat pada
dua kitab hadis:
Sunan al-Tirmiżī (kitāb 10 bāb 73)
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ
بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِىٍّ وَأَبُو عَامِرٍ
الْعَقَدِىُّ قَالاَ حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ سَعْدٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِى
هِلاَلٍ عَنْ رَبِيعَةَ بْنِ سَيْفٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ قَالَ
رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَمُوتُ
يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَوْ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ إِلاَّ وَقَاهُ اللَّهُ فِتْنَةَ
الْقَبْرِ ».
Musnad Aḥmad b. Ḥanbal (juz 2 halaman 169)
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ
حَدَّثَنِى أَبِى حَدَّثَنَا أَبُو عَامِرٍ حَدَّثَنَا هِشَامٌ - يَعْنِى ابْنَ
سَعْدٍ - عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِى هِلاَلٍ عَنْ رَبِيعَةَ بْنِ سَيْفٍ عَنْ عَبْدِ
اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « مَا مِنْ
مُسْلِمٍ يَمُوتُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَوْ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ إِلاَّ وَقَاهُ
اللَّهُ فِتْنَةَ الْقَبْرِ ».
Skema Sanad
Skema tersebut
menunjukkan bahwa hadis yang diriwayat al-Tirmiżī tidak memiliki muttabiʻ yakni, orang yang
meriwayatkan hadis yang sama pada ṭabaqat sahabat. Karena hanya ‘Abdullāh
b. ‘Amr yang meriwayatkan hadis ini dikalangan sahabat. Maka hadis ini dihukumi
gorīb. Namun hadis ini memiliki syawāhid yakni, orang yang
meriwayatkan hadis yang sama pada ṭabaqat tābiʻīn. Terdapat dua
orang yang meriwayatkan hadis ini dari kalangan tābiʻīn yaitu Rabīʻah b.
Sayf dan Abū Qabīl. Uraian tersebut juga menunjukkan adanya common link
/ madār yakni Hisyām b. Saʻad dan Baqiyyah. Mereka mempopulerkan hadis
tersebut kepada lebih dari satu orang.
Biografi dan Penilaian Periwayat
Berdasarkan skema
sanad tersebut, terhitung delapan periwayat dari jalur al-Tirmiżī yaitu, ʻAbdullāh b. ʻAmr, Rabīʻah b. Sayf, Saʻīd b. Abū Hilāl, Hisyām b. Saʻad, ʻAbdurrahman b. Mahdī, Abū ʻĀmir, Muḥammad b. Bassyar,
al-Tirmiżī. Sedangkan tujuh periwayat jalur Aḥmad b. Ḥanbal yaitu, ʻAbdullāh b. ʻAmr, Abū Qabīl, Muʻāwiyah b. Saʻīd, Baqiyyah, Surayj,
Ibrāhīm b. Abū al-ʻAbbas, Aḥmad b. Ḥanbal.
Untuk mengetahui
biografi dan penilaian para periwayat, tulisan ini menggunakan kitab taḥżīb al-Taḥżīb karya Ibn Ḥajr al-ʻAsqalānī yang
memuat biografi para periwayat hadis dan penilaiannya (al-jarḥ wa al-Taʻdīl).
Adapun penilaiannya, berpijak pada kaidah taqdīm al-Jarḥ ʻalā al-Taʻdīl
walaw kaṡura al-Muʻaddilūn, yang bermakna penilaian buruk (jarḥ)
harus didahulukan meskipun banyak orang yang menilai baik (taʻdīl),
dengan argumen bahwa pada dasarnya semua orang itu baik sehingga tidak semua
orang mengetahui terhadap keburukan orang lain.
Tolak ukur penilaiannya,
sebagaimana yang dikemukakan al-Żahabī, mengikuti mutaʻannitūn fī al-Jarḥ
mutaṡabbitūn fī al-Taʻdīl atau kelompok mutasyaddid. Diantara mereka
yaitu, Syuʻbah (160 H), Sufyān al-Ṡawrī (161 H), Ibn Mahdī (198 H), Yahyā l-Qaṭṭān
(198 H), Ibn Maʻin (233 H), ʻAlī b. al-Madīnī (234 H), al-Bukhārī (256 H), Abū Ḥātim
al-Rāzī (277 H).
Sebagaimana dua jalur sanad hadis
tersebut maka penguraiannya menjadi empat belas periwayat.
Jalur periwayatan al-Tirmiżī
ʻAbdullāh b. ʻAmr (63 H)
ʻAbdullāh b. ʻAmr b. al-ʻĀṣ b. Wā’il b. Hāsyim b. Suʻayd
al-Qurasyī. Ibunya bernama Rā’iṭah b. Munabbah al-Sahmīyah. Ia salah seorang
dari sahabat Nabi keturunan suku Qurasy dan masuk Islam sebelum ayahnya. Menurut satu
pendapat, sebelum masuk Islam ia bernama al-ʻĀṣ. Ia memiliki semangat dalam beribadah dan haus
ilmu. Abū Hurayrah berkata: Tidak seorangpun yang lebih banyak meriwayatkan
hadis Nabi dari pada aku kecuali ʻAbdullāh b. ʻAmr, karena ia menulis
apa yang tidak aku tulis. Pada tahun 63 H bulan Żulḥijjah ia wafat di
Mesir.
Ia meriwayatkan hadis
dari; Rasūlullāh, Abū Bakr, ʻUmar, Abdurrahmān b. ʻAwf, Muʻāż b. Jabal, Abū al-Dardā’, Surāqah b. Mālik. Selain itu,
ia memiliki murid di kalangan sahabat maupun tābiʻīn diantaranya, Anas
b. Mālik, Abū Umāmah b. Sahl, Abdullāh b. al-Ḥāriṡ, Saʻīd b. al-Musayyab, Ṭāwūs,
Abū ʻAbdurrahmān al-Ḥubulī.
Dalam terminologi ilmu hadis,
seorang sahabat dijamin keadilan dan kejujurannya dalam meriwayatkan hadis,
sehingga periwayatannya dianggap mustahil dari dusta. Hal ini disepakati oleh
mayoritas ulama Sunni. Dengan kata lain, dalam masalah periwayatan hadis,
seluruh sahabat tidak ada yang tertolak periwayatannya, baik sahabat yang
terlibat perang siffin maupun tidak.
Rabīʻah b. Sayf (110 H)
Rabīʻah b. Sayf b. Mātiʻ al-Maʻāfirī al-Ṣunamī al-‘Iskandarānī. Ia dari
Mesir dan wafat pada tahun 110 H. Diantara guru-gurunya adalah ʻAbdullāh b. ʻAmr, Fuḍōlah b. ʻUbayd, Abū ʻAbdurrahmān al-Ḥubulī. Ia juga memiliki murid
diantaranya, Saʻīd b. Abū Ayyūb, Saʻīd b. Abū Hilāl, Nāfiʻ b. Zayd.
Penilaian terhadap Rabīʻah b. Sayf
Menurut al-Bukhārī, hadis ini tidak munkar,
namun terdapat beberapa hadis munkar yang ia riwayatkan (ʻindahū manākir).
Al-Nasā’ī berkata hadis ini ḍoīf (laysa bihī ba’s). Ibn Ḥibbān
berpendapat bahwa ia banyak melakukan kesalahan (yukhṭi’u kaṡīran). Al-Tirmiżī
juga mengatakan bahwa sanad ini tidak bersambung karena Rabīʻah b. Sayf meriwayatkan
hadis ini dari al-Ḥubulī dan kami tidak mengenal Rabīʻah b. Sayf mendengar
langsung dari Ibn ʻAmr. Sementara al-Dāruquṭnī dan al-‘Ijlī berpendapat bahwa
ia ṣālih dan ṡiqah.
Berpijak pada kaidah taqdīm
al-Jarḥ ʻalā al-Taʻdīl walaw kaṡura al-Muʻaddilūn maka Rabīʻah b. Sayf dinyatakan
sebagai periwayat yang ḍoʻīf karena mengaku
mendapatkan hadis ini langsung dari Ibn ʻAmr (tadlīs syuyūkh) padahal dari al-Ḥubulī sehingga sanadnya tidak
bersambung dan ia memiliki beberapa hadis munkar.
Saʻīd b. Abū Hilāl (149 H)
Saʻīd b. Abū Hilāl al-Layṡī lahir di Mesir. Ia wafar pada
tahun 149 H. Ia meriwayatkan hadis dari orang diantaranya, Jābir, Anas (secara mursal),
Zayd b. Aslam, Rabīʻah b. Sayf. Sementara yang
meriwayatkan hadis darinya adalah Saʻīd al-Maqbarī, Khālid b. Zayd al-Miṣrī, Hisyām b. Saʻad.
Penilaian terhadap Saʻīd b. Abū Hilāl
Menurut al-ʻIjlī, Ibn Khuzaymah, al-Dāruquṭnī,
al-Bayhaqī, Ibn ʻAbd al-Barr dan al-Khaṭīb bahwa ia ṡiqah. Ibn Saʻad juga berkata
demikian. Al-Sājī berpendapat bahwa ia ṣodūq. Sementara Abū ḥātim berpendapat lā ba’sa bihī. Ibn Ḥazm juga mengatakan
bahwa ia laysa bi al-Qawī.
Dapat disimpulkan bahwa Saʻīd b. Abū Hilāl tidak bermasalah
sebagaimana berpijak pada pendapat Abū Ḥātim bahwa ia dinilai lā ba’sa bihī yang bermakna ṣodūq, namun
hadisnya hanya bisa ditulis dan dijadikan ‘iʻtibār (tidak sampai
dijadikan ḥujjah). Sanadnya bersambung karena meriwayatkan
langsung dari Rabīʻah b. Sayf.
Hisyām b. Saʻad (161 H)
Hisyām b. Saʻad al-Madīnī wafat pada tahun 161
H. Ia meriwayatkan hadis dari Zayd b. Aslam, Saʻīd al-Maqbarī, Nāfiʻ (mantan budak Ibn ʻUmar). Diantara orang yang
meriwayatkan darinya, al-Layṡ, al-Ṡawrī, Muʻāwiyah b. Hisyām, Wakīʻ, Ibn
Mahdī, Abū ʻĀmir al-ʻAqadī.
Penilaian terhadap Hisyām b. Saʻad
Menurut Ibn al-Madīnī ia seorang yang ṣālih wa laysa bi al-Qawī. Abū Zurʻah mengatakan
bahwa ia maḥalah al-ṣidqī. Al-ʻIjlī juga berkata jā’iz al-Ḥadīṡ ḥasan al-Ḥadīṡ. Sementara Abū Ḥātim
berpendapat bahwa yuktabu ḥadīṡuhū lā yuḥtaju bihī. Ibn Maʻīn mengatakan
ḍoʻīf ḥadīṡuhū mukhtaliṭ.
Dilihat dari tahun
wafatnya, ia masih sezaman dengan Saʻīd b. Abū Hilāl. Bahkan ada kemungkinan
untuk bertemu. Dengan demikian, Hisyām b. Saʻad dinilai ṣālih namun hadisnya tidak
bisa dijadikan ḥujjah, hanya ditulis saja.
ʻAbdurrahman b. Mahdī (198 H)
ʻAbdurrahman b. Mahdī b. Ḥassān al-ʻAnbarī Abū Saʻīd
al-Baṣrī al-Lu’lu’ al-Ḥāfiẓ al-Imām al-ʻAlam adalah . Diantara guru-gurunya
adalah, Hisyām b. Saʻad, Ayman b. Nābil, Mahdī b. Maymūn. Sementara yang
meriwayatkan darinya yaitu, Ibn al-Mubārak, Ibn Wahb, Yaḥyā b. Maʻīn. Ia wafat
pada tahun 198 H.
Penilaian terhadap ʻAbdurrahman b. Mahdī
Menurut Ibn al-Madīnī ia aʻlam
al-Nās, kāna wirdu ‘Abdirraḥmān kulla laylatin niṣfa al-Qur’ān. Ibn Ḥibbān juga berpendapat al-ḥuffāẓ
al-Mutqinīn, ahl al-Waraʻ fī al-Dīn. Hanbal berkata dari ‘Abdullāh bahwa ʻAbdurrahman afqah
al-Rajulayn (min yaḥyā b. Saʻīd). Abū ḥātim juga berpendapat
bahwa ia aṡbatu aṣḥābi ḥammād b. Zayd, imāmun ṡiqatun aṡbatu min yaḥyā b. Saʻīd wa atqana min Wakīʻ. Ibn Saʻad berkata ṡiqatun kaṡīr al-Ḥadīṡ.
Dapat disimpulkan bahwa ʻAbdurrahman b. Mahdī dinilai ṡiqah. Tidak
terdapat satu pun yang menilainya buruk sehingga periwayat ini tidak bermasalah
dan hadisnya bisa dijadikan ḥujjah.
Abū ʻĀmir (204 H)
Abū ʻĀmir al-ʻAqadī merupakan kunyah
baginya. Nama aslinya ‘Abd al-Malik b. ‘Amr al-Qaysī al-Baṣrī. Ia meriwayatkan dari
beberapa diantaranya, Ayman b. Nābil, Sakhōmah b. ‘Abdurrahmān, ‘Ikrimah b.
‘Ammār. Sementara yang meriwayatkan darinya adalah Aḥmad, Isḥāq, ‘Alī, Bundār.
Ia wafat pada tahun 204 H.
Penilaian terhadap Abū ʻĀmir
Menurut Ibn Maʻīn ia ṣadūq. Ibn Mahdī juga berkata auṡaqu syaykh. Ishāq berpendapa bahwa ia al-Fiqh
al-Amīn. Ibn Saʻad mengatakan bahwa ia
ṡiqah. ‘Uṡmān al-Dārimī berkata Abū ʻĀmir ṡiqah ‘āqil.
Dapat disimpulkan bahwa Abū ʻĀmir al-ʻAqadī bernilai ṡiqah karena tidak satupun yang
men-jarḥnya.
Muḥammad b. Bassyār, Bundār (252 H)
Muḥammad b. Bassyar b. ʻUṡmān al-ʻAbdī Abū Bakr al-Ḥāfiẓ al-Baṡrī
Bundār. Yang meriwayatkan hadis dari
‘Abd al-Wahhāb, Gundar, Ibn Mahdī, Abū ‘Āmir al-‘Aqadī, Abū Dāwūd
al-Ṭoyālisī. Sementara diantara murid-muridnya, al-Jamāʻah, al-Nasā’ī,
Abū Ḥātim, Abū Zurʻah, Abdullāh b. Aḥmad. Ia wafat pada tahun 252 H.
Penilaian terhadap Muḥammad b. Bassyar
Menurut al-‘Ijlī ia ṡiqah kaṡīr al-ḥadīṡ. Abū Ḥātim
berkata ia ṣadūq. Al-Nasā’ī juga berpendapat ṣālih lā ba’sa bihī. Menurut
Ibn Khuzaymah ia adalah seorang imām. Al-Dāruquṭnī mengatakan bahwa ia al-Ḥuffāẓ
al-Aṡbāt.
Dapat
disimpulkan bahwa ia seorang yang ṡiqah. Hadisnya bisa dijadikan ḥujjah.
Al-Tirmiżī (279 H)
Muḥammad b. ‘Isā b. Sawrah b. Musā b. al-Ḍohhāk al-Sulamī. Ia meupakan salah satu Imam. Salah satu karyanya adalah al-Jāmīʻ
al-Kabīr atau biasa disebut Sunan al-Tirmiżī. Dalam meriwayatkan
hadis berguru pada Abū Ḥāmid al-Marwazī, al-Hayṡam b. Kulayb al-Syāsyī, Muḥammad
b. Maḥbūb al-Marwazī, Aḥmad b. Yūsuf al-Nasafī, Dāwūd b. Naṣr al-Bazdawī. Ia
wafat di Tirmiż tahun 279 H malam senin. Al-Idrīs berkata bahwa ia aḥad al-A’immah.
Tabel Penilaian Para Periwayat
No.
|
Nama
|
Penilai
|
Lafaẓ
|
Natījah
|
1.
|
ʻAbdullāh b. ʻAmr
|
-
|
-
|
Sahabat
|
2.
|
Rabīʻah b. Sayf
|
Al-Bukhārī
|
‘Indahū manākir
|
Ḍoʻīf karena tadlīs syuyūkh.
|
3.
|
Saʻīd b. Abū Hilāl
|
Abū Ḥātim
|
Lā ba’sa bihī
|
Ṣadūq namun tidak dijadikan ḥujjah
|
4.
|
Hisyām b. Saʻad
|
Ibn al-Madīnī
|
Ṣālih
|
Ṣālih tapi tidak dijadikan ḥujjah
|
5.
|
ʻAbdurrahman b. Mahdī
|
Ibn al-Madīnī
|
Aʻlam al-Nās
|
Aʻlam al-Nās dan bisa dijadikan ḥujjah
|
6.
|
Abū ʻĀmir al-ʻAqadī
|
Ibn Mahdī
|
Auṡaqu syaykh
|
Ṡiqah dan bisa dijadikan ḥujjah
|
7.
|
Muḥammad b. Bassyar (Bundār)
|
Abū Ḥātim
|
Ṣadūq
|
Ṡiqah dan bisa dijadikan ḥujjah
|
8.
|
Al-Tirmiżī
|
Al-Idrīs
|
Aḥad al-a’immah
|
Imām
|
Natījah
Sebagaimana kritik terhadap para periwayat
tersebut maka hadis jalur al-Tirmiżī adalah gorib karena tidak memiliki muttabiʻ. Kredibilitas para periwayat tersebut dinilai ṡiqah kecuali Rabīʻah b. Sayf. al-Tirmiżī mengemukakan, ia tidak meriwayatkan langsung dari ‘Abdullāh b. ‘Amr melainkan dari Abū ‘Abdurrahmān al-Ḥubulī, maka Rabīʻah b. Sayf telah melakukan tadlīs al-Syuyukh yakni tidak menyebutkan perowi yang ia mendapat hadis
darinya dengan menisbatkan kepada selainnya, karena Abū ‘Abdurrahmān al-Ḥubulī
salah satu gurunya. Ditambah taḥammul al-Adā’ menggunakkan ‘anʻan yang melemahkan sanad sehingga menurut sebagian ulama
hadisnya tidak diterima atau tidak dijadikan ḥujjah.
Dapat disimpulkan sanad hadis riwayat al-Tirmiżī tidak memenuhi kriteria keṣaḥīhan hadis karena tidak adanya ketersambungan sanad (‘adam
al-Ittiṣōl) pada Rabīʻah b.
Sayf. Sehingga sanadnya dinilai ḍoʻīf.
Jalur Periwayatan Aḥmad b. Ḥanbal
ʻAbdullāh b. ʻAmr
ʻAbdullāh b. ʻAmr b. al-ʻĀṣ b. Wā’il b. Hāsyim b. Suʻayd
al-Qurasyī. Ibunya bernama Rā’iṭah b. Munabbah al-Sahmīyah. Ia salah seorang
dari sahabat Nabi keturunan suku Qurasy dan masuk Islam sebelum ayahnya. Menurut satu
pendapat, sebelum masuk Islam ia bernama al-ʻĀṣ. Ia memiliki semangat dalam beribadah dan haus
ilmu. Abū Hurayrah berkata: Tidak seorangpun yang lebih banyak meriwayatkan
hadis Nabi dari pada aku kecuali ʻAbdullāh b. ʻAmr, karena ia menulis
apa yang tidak aku tulis. Pada tahun 63 H bulan Żulḥijjah ia wafat di
Mesir.
Ia meriwayatkan hadis
dari; Rasūlullāh, Abū Bakr, ʻUmar, Abdurrahmān b. ʻAwf, Muʻāż b. Jabal, Abū al-Dardā’, Surāqah b. Mālik. Selain itu,
ia memiliki murid di kalangan sahabat maupun tābiʻīn diantaranya, Anas
b. Mālik, Abū Umāmah b. Sahl, Abdullāh b. al-Ḥāriṡ, Saʻīd b. al-Musayyab, Ṭāwūs,
Abū ʻAbdurrahmān al-Ḥubulī.
Dalam terminologi ilmu hadis,
seorang sahabat dijamin keadilan dan kejujurannya dalam meriwayatkan hadis,
sehingga periwayatannya dianggap mustahil dari dusta. Hal ini disepakati oleh
mayoritas ulama Sunni. Dengan kata lain, dalam masalah periwayatan hadis,
seluruh sahabat tidak ada yang tertolak periwayatannya, baik sahabat yang
terlibat perang siffin maupun tidak.
Abū Qabīl (128 H)
Ḥuyay b. Hāni’ b. Nāḍir b. Yamnaʻ al-Maʻāfirī
al-Miṣrī adalah nama lengkapnya. Dalam meriwayatkan hadis berguru pada ‘Ubādah
b. al-Ṣōmit, ‘Amr b. al-‘Aṣ, ʻAbdullāh b. ʻAmr, ‘Uqbah b. ‘Āmir al-Juhhanī. Sementara
murid-muridnya adalah Yazīd b. Abī Ḥubayb, Bakr b. Muḍar, al-Layṡ.
Penilaian terhadap Abū Qabīl
Menurut Aḥmad, Ibn Maʻīn dan Abū Zurʻah ia ṡiqah. Abū Ḥātim berpendapat ṣālih al-Ḥadīṡ. Ibn Ḥibbān juga berkata kāna
yukhṭi’. Yaʻqūb b. Syuʻbah mengatakan bahwa ia kāna lahū ‘ilm bi
al-Malāhim al-Fitan.
Dapat disimpulkan
bahwa Abū Qabīl dinilai ṡiqah karena tidak ada
alasan atau pendapat yang men-jarḥnya.
Muʻāwiyah b. Saʻīd
Muʻāwiyah b. Saʻīd b. Syurayh b. ‘Urwah
al-Tajībī. Ia meriwayatkan hadis dari Abū Qabīl, Yazīd b. Abī Ḥubayb, Abū Hāni’ al-Khawlanī, ‘Abdullāh b. Muslim. Sementara
murid-muridnya adalah Rusyd b. Saʻad, Baqiyyah, Yaḥyā b. Ayyūb.
Penilaian terhadap Muʻāwiyah b. Saʻīd
Menurut Ibn Ḥibbān ia ṡiqah. Ibn Ḥajr berpendapat
bahwa ia maqbūl.
Sebagaimana penilaian
tersebut maka Muʻāwiyah b. Saʻīd dinilai perowi yang ṡiqah.
Baqiyyah (197 H)
Baqiyyah b. al-Walīd b. ṣōid b. Kaʻab al-Kilāʻī lahir
pada tahun 110 H. Ia meriwayatkan dari Muḥammad b. Ziyād, Ibn Jurayz,
al-Awzāʻī. Murid-muridnya adalah al-Awzāʻī, Ibn al-Mubārak, Syuʻbah. Pada tahun
197 H ia wafat.
Penilaian terhadap Baqiyyah
Menurut Ibn al-Madīnī ia ṡālih dari riwayat ahl Syam.
Ibn Maʻīn berkata bahwa kāna yuhaddiṡu ‘an al-Ḍuʻafā’ bi mia’ah hadīṡ qabla an
yuḥaddiṡa ‘an al-Ṡiqāt. Al-Dāruquṭnī mengatakan bahwa ia ahl al-Ḥadīṡ. Abū
Ḥāṭim berpendapat bahwa yuktabu ḥadīṡuhū lā yuḥtaju bihī. Menurut Ibn
al-Mubārak berkata ia ṣadūq.
Dapat
disimpulkan bahwa Baqiyyah dinilai ṣadūq tapi hadisnya tidak
dijadikan ḥujjah, hanya ditulis.
Surayj (217H)
Surayj b. al-Nuʻmān b. Marwān al-Jawharī al-Lu’luī. Ia meriwayatkan
hadis dari Fulayḥ b. Sulaymān, al-Ḥakam b. ‘Abd al-Malik, Ibn
Abī Zinād. Sementara yang
meriwayatkan darinya adalah al-Bukhārī, Ibn Abī Syaybah, al-Faḍl b. Sahl.
Penilaian terhadap Surayj
Menurut al-‘Ijlī, Ibn Maʻīn, Abū Dāwūd, dan Ibn Saʻad ia ṡiqah. Al-Nasā’ī berpendapat bahwa laysa
bihī ba’s. Sementara al-Dāruquṭnī berkata ṡiqah ma’mūn.
Dapat disimpulkan
bahwa Surayj dinilai ṡiqah karena tidak ada
pendapat yang menilai ia buruk.
Ibrāhīm b. Abū al-ʻAbbas
Ibrāhīm b. Abū al-ʻAbbas atau biasa
disebut Ibn Abū al-‘Abbās al-Sāmirī Abū Ishāq al-Kūfī. Ia tinggal di Baghdad. Ia
meriwayatkan hadis dari Syurayk al-Qāḍī, Ibn Abī al-Zinād, Baqiyyah. Sementara
murid-muridnya adalah Aḥmad b. Hanbal, al-Ṣogōnī, al-Dūrī, ‘Iddah.
Penilaian terhadap Ibrāhīm b. Abū al-ʻAbbas
Menurut
Aḥmad ia ṣalih al-Ḥādīṡ. Abū Ḥātim berpendapat bahwa ia syaykh.
Murrah juga mengatakan bahwa ia ṡiqah lā ba’sa bihī. al-Dāruquṭnī
berkata ṡiqah. Ibn Saʻad berkata kāna ikhtalaṭa ākhira ‘umrahū.
Dapat disimpulkan bahwa Ibrāhīm b. Abū al-ʻAbbas dinilai syaykh
dan hadisnya bisa ditulis dijadikan iʻtibār, tidak sampai
dijadikan ḥujjah. Karena pada akhir usianya ia berbuat kesalahan.
Aḥmad b. Ḥanbal
Aḥmad b. Muḥammad b. Ḥanbal b. Hilāl al-Bagdādī. Ia meriwayatkan
hadis dari Bisyr al-Mufaḍḍol, Sufyān b. ‘Uyaynah.
Sementara murid-muridnya adalah al-Bukhārī, Muslim, anaknya.
Penilaian terhadap Aḥmad b. Ḥanbal
‘Abd al-Razzāq berpendapat bahwa ia
afqahu, awraʻu. Menurut Al-‘Ijlī ia ṡiqah ṡabat fī al-Ḥadīṡ. Al-‘Abbās
al-ʻAnbarī berkata ḥujjah. Al-Syāfiʻī juga mengatakan bahwa ia afqahu,
azhadu, awraʻu, aʻlamu. Dan menurut Yaḥyā b. Iram bahwa Aḥmad imāmunā.
Dapat disimpulkan bahwa Aḥmad b. Ḥanbal dinilai ṡiqah, bahkan ia adalah
seorang imam.
Tabel Penilaian Para Periwayat
No.
|
Nama
|
Penilai
|
Lafaẓ
|
Natījah
|
1.
|
ʻAbdullāh b. ʻAmr
|
-
|
-
|
Sahabat
|
2.
|
Abū Qabīl
|
Abū Ḥātim
|
Ṣālih al-Ḥadīṡ
|
Ṣālih dan hadisnya hanya
ditulis sebagai i’tibār
|
3.
|
Muʻāwiyah b. Saʻīd
|
Ibn Ḥajr
|
Maqbūl
|
Maqbūl, hadisnya diterima
|
4.
|
Baqiyyah
|
Abū Ḥāṭim
|
Yuktabu ḥadīṡuhū lā yuḥtaju bihī
|
Ṣadūq dan hadisnya hanya ditulis
|
5.
|
Surayj
|
Ibn Maʻīn
|
Ṡiqah
|
Ṡiqah
|
6.
|
Ibrāhīm b. Abū al-ʻAbbas
|
Abū Ḥātim
|
Syaykh
|
Syaykh dan bisa dijadikan ḥujjah
|
7.
|
Aḥmad b. Ḥanbal
|
Abd al-Razzāq
|
Afqahu
|
Maqbūl, bisa dijadikan ḥujjah
|
Natījah
Tabel penilaian pada
jalur Aḥmad b. Ḥanbal menunjukkan bahwa semua periwayat
dinilai ṡiqah. Namun sebagaimana pendapat Abū Ḥāṭim
hadisnya tidak dijadikan ḥujjah. Terdapat periwayat
yang diduga memiliki jarḥ, yakni Baqiyyah.
Menurut Yaḥyā b. Maʻīn Baqiyyah pernah
meriwayatkan 100 hadis ḍoʻīf sebelum ia meriwayatkan hadis ṡiqah. Pendapat ini
dikuatkan oleh Ibn Saʻad, Ibn al-Madīnī dan al-ʻIjlī. Dalam kitab taysīr muṣṭalaḥ al-Ḥadīṡ disebutkan bahwa
Baqiyyah termasuk periwayat yang terkenal melakukan tadlīs al-Taswiyyah. Maka sanad pada jalur
Aḥmad b. Ḥanbal belum memenuhi kriteria keṣaḥīḥan sanad hadis, karena terdapat
periwayat yang keʻadalahannya kurang. Maka sanad hadis ini dinilai ḍoʻīf.
Kritik Matan Hadis “mā min muslimin yamūtu yawmal jumʻah...”
Maksud hadis tersebut sebagaimana dikemukakan oleh ‘Abdurra’ūf b. Tāj bahwa seseorang yang
meninggal pada hari atau malam jum’at maka sungguh segala penutup akan terbuka karena pada hari itu pintu-pintu
Jahannam ditutup bahkan malaikat penjaga neraka pun diam, tidak seperti
hari-hari biasanya. Apabila seorang mukmin dicabut nyawa pada hari jum’at yang mana hari
berlimpahnya ke-Agungan rahmat Allah yang tak terhingga maka akan ditulis kebahagiaan baginya yakni terhindar
dari fitnah kubur.
Jika diteliti hadis ini diduga memiliki kejanggalan,
karena tidak semua orang akan beruntung terhadap kematiannya di hari jumʻat. Dikhawatirkan
ada seseorang yang sengaja bunuh diri di hari jum’at hanya karena terdorong
hadis tersebut. Berkenaan dengan peryataan tersebut menurut al-Zayn b. al-Munīr waktu kematian bukanlah suatu pilihan tapi untuk mencapai hal itu
terdapat suatu cara. Misalnya ia mengharap kepada Allah dengan maksud mendapat
keberkahan (tabarruk). Jika tidak tercapai maka pengharapan tersebut
sudah menjadi suatu kebaikan.
Sebagaimana yang
dikemukakan al-Qārī bahwa kata min memiliki
makna umum, mencakup orang fasik, namun jika dikatakan tanwīn pada kata muslim
maka bermakna taʻẓīm. Jika seperti itu maka
yang dimaksud adalah muslim yang taʻat, karena merekalah yang pantas
mendapatkan keistimewaan yakni akan terhindar dari pertanyaan dan siksa kubur.
Maka hadis ini menunjukkan bahwa keistimewaan waktu memiliki pengaruh besar sebagaimana
keistimewaan tempat.
Simpulan
Dapa disimpulkan bahwa
hadis ini tidak memiliki kejanggalan, sebagaimana al-Qārī berpendapat; yang berhak mendapatkan
keistimewaan terhindar dari siksa kubur adalah muslim yang taʻat dalam beribadah, bukan muslim ahl maksiat. Meski hadis ini dinilai ḍoʻīf, tidak masalah jika untuk memotivasi seseorang untuk
lebih giat dalam mentaʻati perintah Allah. Karena terlepas dari itu,
tidak akan menjadi masalah waktu kematian seorang muslim jika ia selalu taʻat kepada Allah maka ketaʻatannya akan menjauhkannya dari siksaan.
Daftar Pustaka
Al-Mubārakfūrī, ‘Ubaydillāh b. Muḥammad, Muraʻāh
al-Mafātīh Syarḥ Misykāh al-Maṣābīḥ (Hind: al-Jāmiʻah al-Salafiyah, 1984).